Kampung Wisata Bangbayang

Wilujeng Sumping di Kampung Wisata Bangbayang, Kampung yang berada di Desa Bangbayang, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang, hanya 1.5 Jam dari Kota Bandung dan BIJB Kertajati, 45 menit dari Kota Sumedang.

Kampung Bangbayang berada pada ketinggian 900-an mdpl, di kaki Pegunungan Sunda Buhun, dalam Prasasti Batutulis disebut Samida Hyang, Hutan Larangan Samida yang merupakan cikal bakal Kerajaan Sunda Galuh Pakuan, Prabu Guru Wretikandayun, dengan wilayah seluruh Pulau Jawa dan sekitarnya sebelum kemudian terpecah menjadi dua, Galuh Barat dan Galuh Timur dengan batas Kali/ Sungai Pamali di Brebes. Galuh Barat dipimpin oleh Manarah dan Galuh Timur oleh Hariang Banga. Hutan Samida Hyang memiliki pemandangan yang spektakuler ala hutan hujan tropis khas Parahyangan yang sejuk dan indah. Hal yang akan membuat terbayang terus adalah keramah tamahan warga masyarakat Desa Bangbayang yang sangat ramah dan welcome kepada siapapun. Keindahan alam dengan terasering sawah yang indah tidak kalah dari Ubud Bali ataupun Teraseringnya Thanos di Philipina, dipadu dengan kebudayaan masyarakat agraris khas Tatar Sunda yang kuat Spirit Sabilulungan dan Gotong Royongnya, menjadikan Bangbayang layak dikunjungi oleh rekan- rekan sekalian yang jenuh dengan suasana penat perkotaan dan juga malas dengan tempat wisata yang terlalu crowded/ rame/ bising sehingga bukannya membuat kita menjadi tambah segar yang ada malah tambah stress dan pusing.

Saat ini Bangbayang sedang dirintis melalui Kelompok Usaha Bersama dengan Spirit Sabilulungan/ Gotong Royong, “ti urang, ku urang, keur balarea” untuk menjadi Kampung Wisata yang memadukan antara agrowisata kopi dengan budaya dan sejarah Sumedang dan Nusantara namun dengan sentuhan teknologi modern dan professional, “Where Historical Values and Modern Technology Meets”, Di Nu Kiwari Ngancik Nu Bihari Seja Ayeuna Sampeureun Jaga, The Past, Present, and Future. Salah satu unggulan khas Bangbayang adalah Kopi Buhun yang sudah turun temurun ditanam oleh masyarakat, diolah dengan cara tradisional sehingga menjadikan Kopi Buhun Bangbayang eksotik dan sedap sekali. Selain Wisata Kuliner Kopi juga anda dapat menikmati Wisata Alam baik forest bathing menikmati kesejukan alam khas Hutan Bangbayang, Treking/ jalan kaki, berlari/ Trailrun, maupun menggunakan sepeda gunung. Bangbayang juga memiliki sumber air yang jernih sehingga bagi anda yang suka terapi alami dengan cara berendam di Sungai atau Sumber Alami yang jernih maka Bangbayang tempat yang tepat.

Bagi anda penggemar Sejarah dan Budaya anda dapat mengunjungi Situs Sejarah Petilasan Eyang Suryakancana Prabu Siliwangi terakhir yang membuat Pantun Buhun dikenal sebagai Uga Wangsit Siliwangi, dimana beliau mengirimkan Mahkota Pajajaran dan 4 Panglimanya ke Sumedang Larang. Didekatnya juga terdapat makom petilasan Ibu Dewi Chandra Wulan seorang Putri Champa Istri Prabu Brawijaya V yang merupakan Ibunda dari Sunan Ampel. Sunan Ampel dipercaya oleh Raja Majapahit terakhir yaitu Prabu Brawijaya untuk melanjutkan reformasi sistem Tata Nagara Majapahit yang sejak ditinggalkan oleh Prabu Hayam Wuruk dan Gajah Mada mengalami kemunduran. Hal sederhana yang diajarkan oleh Sunan Ampel adalah Mo Limo, 5 prinsip kehidupan yang harus dijalankan oleh Warga Masyarakat Majapahit yaitu Mo Mabok, Mo Main, Mo Madon, Mo Madat, dan Mo Maling, tidak boleh mabok, main judi, berzina, narkoba, dan mencuri. Cucu Dewi Chandra Wulan Sunan Drajat mengajarkan tentang nilai kearifan Miraj, perjalanan Rasulullah SAW menaiki tangga sampai Langit ke-7, secara simbolis Sunan Drajat menyebutnya Tangga 7. Spirit Tangga 7 sejalan dengan nilai spirit Prabu Suryakancana yang diwujudkan dalam bentuk punden berundak 7 yang diberi nama Sri (1), Bima (2), Punta (3), Narayana (4), Madura (5), Sura (6), dan Dipati (7), 7 Nama tersebut menjadi Nama Keraton Pakuan Pajajaran di Bogor yaitu Kraton Sri Bima Punta Narayana Madura Sura Dipati.

Samida Hyang Bangbayang merupakan titik awal dimulainya Galuh Purba dimana dulu Pulau Jawa masih bersatu dan kemudian menjelang Periode Akhir Majapahit dan Pajajaran juga menjadi tempat pertemuan antara Wakil Majapahit yaitu Ibu Dewi Candra Wulan dengan Prabu Suryakancana Siliwangi terakhir, menjadi simbol harapan bersatunya kembali seluruh elemen bangsa untuk mewujudkan Wangsit Siliwangi, “Nusa Jaya Jaya Deui, Hade Deui Sakabehna”, Nusantara Jaya Lagi, Baik Lagi Semuanya. Besar harapan kami, Bangbayang dapat menjadi tempat bersatunya seluruh elemen bangsa untuk terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang adil dan makmur. Juga Bangbayang sesuai fungsinya sebagai Kabuyutan Samida Hyang, “learning center“, tempat untuk mengenal jatidiri dan jatigede, tatanan diri sendiri dan alam semesta, sehingga ilmu pengeTAHUan Sumedang Larang dapat dipahami, dirasakan, dan dibuktikan (kahartos, karaos, buktos ; experiential learning). Makna Sumedang Larang yaitu Su = Baik, Medang = Lapang / Terang, dan Larang = Tiada Bandingannya, Sumedang Larang adalah Kebaikan Yang Lapang dan Terang Tiada Bandingannya, Insan Kamil, Manusia Paripurna.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Mang Asep Kabayan di 0812 9397391.

Salam Hangat,

Kampung Wisata Bangbayang
http://www.bangbayang.com
“Bangbayang Bentangna Sumedang”

Advertisements